Persiapan lahan merupakan tahap awal yang sangat penting dalam budidaya jagung untuk mendukung ketahanan pangan. Lahan yang dipilih sebaiknya memiliki tekstur tanah yang gembur, drainase baik, serta pH netral hingga sedikit asam (5,5–7,0). Sebelum ditanami, lahan perlu dibersihkan dari gulma, sisa tanaman, dan sampah agar pertumbuhan jagung tidak terganggu oleh kompetisi unsur hara atau hama. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara dibajak atau dicangkul sedalam 20–30 cm untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aerasi.
Setelah pengolahan tanah, dilakukan pemupukan dasar menggunakan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang guna memperbaiki kesuburan tanah secara alami. Jika diperlukan, tambahan pupuk kimia seperti urea, TSP, dan KCl diberikan sesuai dosis anjuran berdasarkan hasil uji tanah. Penyesuaian pH tanah juga penting, terutama jika tanah terlalu asam, yang dapat diperbaiki dengan pemberian kapur dolomit. Semua tahap ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal bagi benih jagung agar dapat berkecambah dan tumbuh dengan baik.
Persiapan lahan yang matang akan berdampak langsung pada produktivitas jagung. Dalam konteks ketahanan pangan, peningkatan hasil panen jagung sangat penting karena jagung merupakan salah satu sumber pangan pokok dan bahan baku industri pangan. Dengan pengelolaan lahan yang baik dan berkelanjutan, petani dapat meningkatkan hasil panen, menurunkan risiko gagal panen, dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.